Record Detail

No image available for this title

Text

Penerapan PSAK 50 dan 55 (Revisi 2006) dan Dampaknya Pada Kinerja Unit Bisnis Kredit Segmen Middle dan Wholesales (Studi Kasus pada PT. Bank Negara Indonesia, Tbk.)



"Semakin maju dunia perekonomian dan perbankan internasional, perbankan di Indonesia dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan standar akuntansi internasional sehingga dapat meningkatkan kewajaran, keandalan dan transparansi laporan keuangan. Untuk memenuhi hal itu IAI dan DSAK telah mengeluarkan PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006 yang harus diterapkan oleh industry perbankan sejak 1 januari 2008. Namun karena banyak bank dan lembaga keuangan lainnya ternyata belum mampu untuk menerapkan PSAK ini, maka penerapannya ditunda hingga dua kali, yang pada akhirnya ditetapkan 1 januari 2010.
PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006 sudah mengadopsi sebagian besar aturan IFRS, berbea dengan PSAK no 50 (1998) dan PSAK No. 55 (1999) yang lebih cenderung ke US GAAP. Mengetahui bahwa penerapan PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006 ini merupakan isi terbaru bagi dunia akuntansi Indonesia, maka penulis ingin membahas mengenai PSAK ini lebih lanjut berikut implementasinya pada industry perbankan.
Secara garis besar dampak penerapan PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006 terdapat tiga hal utama yaitu: penggunaan nilai wajar, penurunan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), dan isu penurunan nilai itu sendiri yang diasses secara kolektif dan individual.
Dalam penelitian ini, penulis tertarik untuk mengetahui cara menghitung CKPN berdasarkan PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006 untuk kredit segmen middle dan wholesale di BNI, mengetahui besarnya dampak yang ditimbulkan dari penerapan PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006 terhadap kinerja unit bisnis kredit segmen middle dan wholesale di BNI dan mengidentifikasi perubahan apa saja yang telah dilakukan BNI dalam penerapan PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006 sejak tahun 2009 sampai dengan saat ini.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa CKPN di BNI untuk segmen middle dan wholesale dihitung dengan menggunakan metode individual untuk kredit golongan NPL dan restrukturisasi, kemudian menggunakan metode kolektif untuk kredit golongan PL dan kredit-kredit yang telah dihitung dengan metode individual tidak menghasilkan CKPN atau CKPN negative. Hasil lainnya adalah bahwa penerapan kedua PSAK tersebut diatas juga sangat mempengaruhi berapa rasio keuangan untuk menghitung kinerja segmen middle dan wholesale.
Kata kunci : PSAK 50 dan 55 revisi tahun 2006, CKPN, wholesale dan middle, penurunan nilai.

"



Availability

TM 15226 Uun PTM 15226 Uun PPerpustakaan PusatAvailable

Detail Information

Series Title
-
Call Number
TM 15226 Uun P
Publisher ABFII Perbanas Institute : Jakarta.,
Collation
xii, 104hlm.:illus.;30cm.
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
TM 15226
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility

Other version/related

No other version available